Minggu, 28 Desember 2008

Catatan tim observer nasional pada Tsunami Drill di Bantul


Pertanyaan : Bagaimana Reaksi Pusdalops atas pesan dari BMG ?


Ajat Sudrajat (Mabes POLRI):

  1. Kualitas SDM Pusdalops masih perlu ditingkatkan kemampuannya karena masih sedikit bingung, terlalu nyantai, tidak ada greget dan dianggap seperti biasa.

  2. Terjadi gangguan komunikasi, apakah disengaja atau tidak sehingga Pemda yang menangani “Orari-Orari” mungkin perlu mematikan jaringan mereka bila terjadi gempa.

Supriyadi (BNPB):

  1. Proses penentuan gempa dilakukan dengan mengukur dalam peta sesuai dangan panduan (manual) atau SOP. Setelah gempa dinyatakan berpotensi tsunami dan pustanya berada daerah ancaman, maka segera diumumkan oleh ketua jaga.

  2. Kerja tim dijalankan tetapi masih nampak nyantai dan kondisi panik tidaka nampak
    Ada gangguan di radio yang nampak sejak sebelum terjadinya gempa.
    SOP Komunikasi : ada gangguan di chanel 1 pindah ke chanel 2 dan sebaliknya dirasa sudah cukup bagus.

  3. Jam 08.32 (tapi mungkin jam yang dipakai obeserver tidak sama….) Dapat dari BMG melalui radio, jam 08.34 dapat pertanyaan dari Dinkes apakah ada gempa?, jam0 8.36 ada info BMG tentang lintang bujur lokasi gempa, jam 08.38 Petugas menyampaikan pengumuman.
    Pengulangan berita yang ketiga mengalami gangguan teknis.

  4. 08.42 Kontak Bupati, ada selang waktunya. Jam08.44 Sirine berhenti.

  5. Persyaratan Pusdalops tidak hanya seperti itu….. Peta yang lain memang belum ada. Peta evakuasi saja baru dipasang setelah ada permintaan dari observer. Informasi yang lain seperti jumlah penduduk belum ada. Sehingga masih terlalu minim dan belum layak dijadikan pusdalops.

  6. Menurut aturan yag ada, Lokasi Rupusdalops harus di dekat Bupati/Gubernur atau dekat dengan BPBD. Pada saat proses komando, Bupati sudah berada di ruang Pusdalops, sehingga perintah-perintah tidak dilakukan melalui radio tapi langsung dari Pusdalops.

  7. Evaluasi cukup ini saja dulu, masih jauh untuk menyinggung masalah incident commander.

Iman (BMKG):

  1. Secara umum Pusdalops sudah bisa menjadi pusat informasi, Komunikasi dengan Dinkes sudah sangat interaktif

  2. Pusdalops belum mengecek peta lokasi daerah mana yang terkena imbas.

??? (BMKG) di Rumah Dinas Bupati :

  1. Di rumah dinas Bupati ada Bupati, Sekda, Dandim, Wakapolres.

  2. Berita Gempa dari Pusdalops Jam 08.39 berupa pengumuman resmi dari ‘halo-halo’.

  3. Sebelum ada Pusdalops Mengumumkan, Dinkes sudah membicarakan tentang gempa pada jam 08.36 di semua HT Sekda, Bupati dan Dandim. Terjadi overlapping.

  4. Tsunami observe di Sadeng, jam 09.05 diterima di Pusdalops. 09.07 Pusdalops mengumumkan tsunami telah sampai di Pantai.

  5. 09.45 Pusdalops meminta tim penyisir untuk bekerja setelah tsunami reda. 10.30 Berita Tsunami reda.

  6. Tidak ada lembar observasi untuk SMS yang ketiga, maka inisiatif membuat sendiri pada kolom yang terpisah.

Sabtu, 27 Desember 2008

Tsunami Drill di Bantul 2008



Pelaksanaan Tsunami Drill di Bantul yang dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 2008 akhirnya bisa berjalan dengan lancar. Banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari kegiatan ini. Penyempurnaan teknologi diseminasi yang dipergunakan, sosialisasi di tingkat masyarakat dan penyiapan sumber daya di Pusdalops merupakan beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian selanjutnya.



Satu hal yang baru dan menarik dalam tsunami drill yang dilaksanakan oleh Bantul adalah diterapkannya pelimpahan kewenangan untuk "memencet tombol merah" evakuasi dari Bupati kepada Pusdalops. Di daerah lain, bahkan pada tsunami drill tingkat nasional di Gorontalo dan Menado yang resmi dilakukan olleh RISTEK, pelimpahan ini belum dilakukan. Sementara pada sisi BMG sebagai provider informasi dan warning, peran BMG regional juga terlibat pada menit kedua setelah gempa dengan memberikan heads-up message sebelum message tertulis yang dikeluarkan oleh BMG jakarta.

Minggu, 27 Juli 2008

Tsunami Early Warning System di Bantul

Sebagai sebuah usaha antisipasi kemungkinan adanya tsunami, Pemkab Bantul menganggap penting untuk melakukan tindakan-tindakan strategis. Salah satu yang dilakukannya adalah peningkatan kapasitas di tingkat lokal. Usaha ini mendapatkan dukungan dari lembaga kerjasama Indonesia-German dalam proyek GITEWS.
Dalam menangani kerja sama ini Pemkab Bantul membentuk sebuah kelompok kerja tsunami yang ditetapkan melalui sebuah SK Bupati. Komponen dari kelompok kerja ini berasal dari unsur Kantor Kesbanglinmas Bantul, SAR Bantul, Bappeda, Dinsos, POL-PP, ORARI dan PMI. Tugas dari kelompok kerja ini yang utama adalah menerima knowledge-transfer yang dilakukan oleh GTZ melalui beberapa kali workshop, kunjungan lapangan dan simulasi.
Berikutnya diharapkan kelompok kerja ini mampu menjadi think-tank dalam implementasi tsunami early warning system di Bantul yang menjadi bagian dari Ina-TEWS.